G20 kesempatan membuktikan upaya pengurangan risiko bencana di Bali

Bangli, Bali – Wakil Gubernur Provinsi Bali Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati mengatakan bahwa KTT G20 dapat dijadikan kesempatan agar negara-negara luar melihat bahwa Bali mendukung pertemuan itu, terbukti dari adanya upaya pengurangan risiko bencana.

“Sepatutnya momen ini dapat dijadikan momentum untuk menunjukkan kepada dunia internasional terkait upaya pengurangan risiko bencana dan peningkatan kapasitas penanggulangan bencana di Bali yang dilakukan dalam mendukung penyelenggaraan G20,” katanya dalam pidato yang dibacakan oleh Asisten Pemerintahan dan Kesra Setda Provinsi Bali I Gede Indra Dewa Putra.

Saat pembukaan Bulan Bakti Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) yang jatuh setiap Oktober, Wagub di Kabupaten Bangli, Jumat mengingatkan bahwa pada bulan November 2022 Pulau Dewata ditunjuk sebagai tempat pelaksanaan G20 yang akan dihadiri pimpinan-pimpinan negara peserta.

Wagub yang sering dipanggil Cok Ace itu menyadari bahwa Bali memiliki risiko tinggi terhadap ancaman bencana, bahkan dari hasil kajian pihak Pemprov Bali, disebutkan bahwa hampir semua jenis bencana berpotensi terjadi di Bali.

“Mempertimbangkan potensi ancaman bencana yang mungkin terjadi di Bali, maka penguatan regulasi penanggulangan bencana, pengurangan risiko bencana berbasis kearifan lokal, kolaborasi serta pemanfaatan teknologi menjadi pilar utama dalam upaya pengurangan risiko bencana di Bali,” ujarnya.

Mengingat Bali merupakan destinasi wisata yang selain memiliki panorama indah dan kebudayaan juga memiliki risiko tinggi terhadap bencana, Cok Ace menyampaikan bahwa diperlukan sinergitas dari seluruh elemen masyarakat.

“Untuk itu Bulan Bakti Forum Pengurangan Risiko Bencana yang jatuh pada bulan Oktober diharapkan dapat merangkul seluruh elemen masyarakat untuk bersinergi dalam upaya kita bersama mengurangi risiko bencana,” katanya.

Lebih lanjut, di tengah peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana, Wagub asal Ubud itu mengingatkan soal dampak bencana yang berpotensi terjadi terhadap kehidupan, sehingga diingatkan agar investasi PRB dilakukan secara masif, berkelanjutan dan inklusif.

“Kita bangun kesadaran bersama bahwa upaya penanggulangan bencana bukanlah kerja pemerintah semata, melainkan tanggung jawab kita bersama. Maka dari itu upaya upaya pengurangan risiko bencana memerlukan komitmen yang kuat dari semua,” kata Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati ​​​​​.

Sementara itu Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB Mayjen TNI Fajar Setyawan secara daring menyatakan bahwa pengurangan risiko bencana harus menjadi tulang punggung dalam penanggulangan bencana.

“Pengurangan risiko bencana menjadi tugas kita bersama, komitmen kita bersama sehingga kita bisa meminimalkan risiko yang terjadi jika terjadi bencana,” katanya. (Ant)