Tujuh kegiatan utama Bulan Bahasa Bali akan digelar sebulan penuh

Denpasar – Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Provinsi Bali I Gede Arya Sugiartha menyampaikan bahwa penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali dengan tujuh kegiatan utama akan dilaksanakan selama sebulan penuh.

“Bulan Bahasa Bali ke-5 tahun 2023 akan digelar selama satu bulan dari tanggal 1-28 Februari 2023 dengan tema ‘Segara Kerthi: Campuhan Urip Sarwa Prani’,” kata dia di Denpasar, Rabu..

Dalam pembukaan Bulan Bahasa Bali itu Arya menyebut tujuh kegiatan utama yang dimaksudkan adalah Utsawa (festival), Widyatula (seminar), Wimbakara (lomba), Krialoka (seminar), Reka Aksara (pameran), konservasi lontar, dan Kerthi Nugraha Mahottama (penganugerahan).

Arya menjelaskan, dalam festival dilakukan kegiatan mengetik menggunakan keyboard bahasa bali, satu-satunya yang ada di Indonesia, kemudian seminar akan membahas Segara Kerthi dari sudut kebudayaan Bali.

“Untuk Wimbakara, sebanyak 18 lomba yang akan diikuti seluruh kabupaten/kota dilakukan secara luring atau daring oleh perwakilan kabupaten/kota maupun masyarakat umum,” ujarnya.

Untuk workshop, Kepala Disbud Bali itu mencanangkan kegiatan perpaduan antara teknologi dengan aksara Bali yang ada di keyboard aksara Bali, serta workshop mengenai penggunaan sastra Bali dalam musikalisasi puisi.

Sementara itu, kegiatan pameran akan diisi foto-foto yang memperlihatkan kehidupan masyarakat Bali, dan konservasi lontar dilakukan untuk masyarakat seluruh Pulau Dewata.

Untuk penganugerahan sendiri akan dilakukan di akhir Bulan Bahasa Bali, di mana saat itu penghargaan sekaligus uang akan diberikan kepada juara.

Mantan Rektor ISI Denpasar itu berharap Pemprov Bali dan jajaran pemkot/pemkab serta sekolah dari SD, SMP, SMA serta perguruan tinggi melaksanakan Bulan Bahasa Bali merujuk pada Edaran Gubernur Bali Nomor 73 Tahun 2022 Tanggal 16 April 2022 tentang Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali V 2023 di Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Bali.

“Para penyuluh Bahasa Bali yang berjumlah 663 orang akan membantu desa adat dan sekolah terkait pelaksanaan Bulan Bahasa Bali, tujuannya agar kegiatan ini semakin dikenal masyarakat Bali,” kata dia.

Gubernur Bali Wayan Koster yang turut hadir dalam pembukaan acara mengatakan bahwa penting untuk melindungi aksara, bahasa, dan sastra Bali.

“Tiga unsur ini adalah bagian daripada unsur peradaban budaya Bali, kita wajib melindungi dan menggunakannya. Kalau melindungi dan menggunakannya saja tidak bisa, itu kebangetan, dosa kita kepada leluhur,” ucapnya.

Saat menyaksikan pelajar menulis aksara Bali dalam lontar maupun keyboard aksara Bali, Koster mengaku bangga, ia bahkan menyinggung bagaimana China dan Jepang menyampaikan surat menggunakan huruf khasnya, sehingga dirinya memerlukan penerjemah.

“Saya dapat surat semua pakai aksara Jepang dan China. Ke depan kita harus bisa semua pakai bahasa Bali, sehingga mereka juga cari penerjemah seperti kita, jangan mau kalah,” ujar orang nomor satu di Pemprov Bali itu. (Ant)