Anggota DPD dorong generasi muda Bali terus belajar di era teknologi

Denpasar – Anggota Dewan Perwakilan Daerah Made Mangku Pastika mendorong generasi muda Bali untuk terus belajar mengisi diri, di tengah era teknologi yang berkembang dengan cepat.

“Teknologi tak pernah diam. Teknologi berkembang begitu cepatnya. Kalau kita tak bisa mengikutinya, akan tertinggal dan peluang yang ada diambil oleh orang luar,” kata Pastika dalam kunjungannya ke PT Solusi Anak Sakti di Denpasar, Rabu.

Pastika sengaja mendatangi startup Solusi Anak Sakti dengan produknya “Djoin” dalam agenda kunjungan konstituennya itu karena melihat potensinya yang begitu besar.

“Saya melihat peluang yang begitu besar di Bali khususnya bidang teknologi. Karena itu, saya punya cita-cita bikin Institut Teknik Bali Mandara (ITBM) sehingga bisa mencetak tenaga-tenaga terampil yang tentunya siap mendatangkan uang,” ucap mantan Gubernur Bali dua periode itu.

Menurut dia, saat ini jangan hanya mencetak tenaga untuk mencari kerja. Namun, yang lebih penting mencari uang agar bisa lebih banyak membantu diri sendiri, pembangunan daerah dan bangsa.

“Sudah tentu kehadiran anak muda menjadi harapan besar, karena di tangan anak muda ini kunci untuk memajukan Bali dan bangsa ini,” ujar anggota Komite 2 DPD itu.

Ia juga memuji semangat anak muda yang kini banyak menekuni bidang teknologi informasi (TI), karena peluangnya sangat besar. Bahkan, belakangan ini persaingan untuk mendapatkan SDM teknologi makin ketat.

“Saat ini dengan adanya G20 yang digelar di Bali sebenarnya merupakan kesempatan bagus, sebab banyak orang-orang pintar, pebisnis dan pengusaha kumpul di sini,” katanya.

Sementara itu, owner Djoin Wayan Indra Adhi Saputra mengatakan startup yang dirintisnya pertengahan 2020 saat pandemi COVID-19, kini terus berkembang dan melibatkan 58 anak muda untuk mendukung aktivitas bisnisnya.

“Kami lagi ada pekerjaan dengan nilai 1 juta dolar AS sehingga perlu konsen dan melibatkan cukup banyak tenaga. Jadi kami startup pertama dan satu-satunya di Bali yang mendapat pendanaan sebesar itu,” ujar Indra.

Indra dalam paparannya mengatakan awal berdiri, startup yang dirintisnya fokus sebagai penyedia teknologi bagi koperasi dan LPD khususnya mikro finance yang bertujuan untuk mendorong lembaga keuangan mikro bisa makin cepat maju.

“Kami melihat peluangnya di grassroot area, sehingga sektor ini yang digarap. Kami jadikan koperasi sebagai mitra agar bisa tumbuh bersama,” ujarnya.

Apalagi selama ini pengurus koperasi kebanyakan berusia di atas 40 tahun. Oleh karena itu, ia mendorong agar anak muda bisa jadi pengurus sehingga bisa bersaing dengan fintech yang ada.

Djoin pun kemudian terus berinovasi dengan melahirkan berbagai produk teknologi seperti core banking yang terintegrasi dengan mobile banking.

Kemudian juga ada e-collector yang selain memudahkan manajemen perusahaan memantau, sistem ini terintegrasi dengan akunting kantor. (Ant)