Mensos minta kesiapsiagaan bencana di Bali dimulai dari tingkat banjar

Badung – Menteri Sosial (Mensos) Republik Indonesia Tri Rismaharini meminta kepada masyarakat Bali untuk membangun kesadaran dan memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana mulai dari kelompok masyarakat adat terkecil di daerah itu, yaitu banjar.

Jika kesiapsiagaan terhadap bencana dapat dibangun dari tingkat banjar, Risma optimistis masyarakat Bali dapat lebih tangguh dan tanggap terhadap berbagai potensi bencana yang ada di daerah tempat tinggal masing-masing.

“Biasanya, tokoh masyarakat di banjar, kelian banjar, bisa dengan mudah mengajarkan ke masyarakat. Kalau ini bisa menjadi menyebar di seluruh Bali, dan (warga, red.) mengerti (pentingnya kesiapsiagaan bencana, red.), kami bisa menetapkan Pulau Bali (sebagai wilayah, red.) tangguh bencana,” katanya saat memberi arahan pada peserta pelatihan Kampung Siaga Bencana di Legian, Badung, Senin.

Menurut dia, pengetahuan dan kesadaran mengenai kesiapsiagaan dapat lebih mudah disebarluaskan di Bali karena karakteristik masyarakat yang lebih guyub dibandingkan dengan komunitas di daerah lain.

Oleh karena itu, ia optimistis Bali dapat menjadi teladan dan inspirasi daerah lain untuk memperkuat kemampuan masyarakat menghadapi ancaman bencana.

“Harus ada (daerah, red.) yang menjadi contoh agar warga yang lain care (peduli),” kata dia.

Dalam kunjungannya ke wantilan di Pura Dalem Kahyangan di Legian itu, ia juga mengapresiasi pelatihan kesiapsiagaan bencana yang melibatkan anak-anak, karena kesadaran atas hal itu harus ditanam sejak dini.

“Wajib hukumnya seluruh warga di Indonesia mengerti bagaimana cara menyelamatkan diri minimal untuk berlindung (dari ancaman bencana, red.), dan nanti ke depannya selain untuk warga, kita bisa mengajarkan anak-anak untuk mengerti mulai dari awal, sejak dini, karena nanti mereka akan bawa terus sampai dewasa,” kata Tri Rismaharini kepada para peserta pelatihan di Legian.

Dalam kesempatan yang sama, ia juga berbagi cerita saat berkunjung ke Meksiko untuk mempelajari kesiapsiagaan bencana.

“Meksiko ternyata daerah rawan bencana, tetapi karena warganya siap, mereka tidak kaget.Tiap minggu ada semacam sirine, untuk mereka latihan menyelamatkan diri supaya saat terjadi sesuatu mereka ngeh (sadar dan tanggap, red.) untuk menyelamatkan diri,” kata dia.

Risma yang memiliki latar belakang arsitek itu, juga menyampaikan kepada para peserta pelatihan mengenai pentingnya bangunan tahan gempa, terutama di daerah-daerah yang rawan guncangan.

Ia menilai beberapa bangunan tradisional memiliki daya tahan yang lebih kuat terhadap guncangan.

“Kalau bisa tetap dipertahankan bangunan tradisional. Itu sebenarnya nenek moyang kita sudah mengerti bagaimana kejadian gempa. Kalau ini bisa dilestarikan, saya pikir ini bagus sekali,” kata dia.

Lokasi pelatihan kesiapsiagaan bencana di Legian menjadi tempat pertama yang dikunjungi Risma setiba di Bali, Senin, untuk menghadiri peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) yang berlangsung secara terpusat di Klungkung, Bali, Selasa (20/12).

Di Legian, ia tidak hanya memberi arahan dan berbagi wawasan, tetapi juga menyempatkan menyapa dan bermain bersama anak-anak Sekolah Dasar yang berpartisipasi pada pelatihan kesiapsiagaan bencana.

Menteri Sosial Risma juga menyempatkan diri mendengar pertanyaan dan permintaan dari warga di Legian, salah satunya mengenai bantuan alat-alat penunjang kesiapsiagaan bencana, termasuk persediaan logistik makanan dan minuman. (Ant)